Perjalanan
kali ini mungkin bisa disebut sebagai jawaban atas rasa penasaran saya terhadap
wisata sejarah yang lokasinya berdekatan dengan kota asal saya, Salatiga. Sejak
kecil saya selalu menganggap bahwa tidak ada objek wisata yang recommended untuk dikunjungi ketika Anda
akan berkunjung ke Salatiga. Entah karena minimnya informasi dan pengelolaan
atau memang karena tidak adanya objek wisata yang mumpuni. Untuk itu saya pun harus berusaha mencari informasi secara
ekstra dibandingkan biasanya, agar dapat menggali potensi wisata yang terdapat di
Salatiga dan sekitarnya. Berbekal informasi dari blog traveling seorang kawan, saya mendapatkan informasi mengenai situs
Candi Klero yang terletak di Desa Klero, Kec. Tengaran, Kabupaten Semarang yang
tidak jauh untuk ditempuh dari Salatiga. Saya dan keluarga pun menempuh waktu
perjalanan yang relatif singkat, hanya sekitar 20 menit dari pusat kota
Salatiga.
Jumat, 30 Maret 2012
Kamis, 08 Maret 2012
Jogja Museum Review : Untukmu Museum Batik Yogyakarta..
![]() | |
| (Photo by http://batik.cindelaras.com)Dibalik kesederhanaan bangunannya, museum ini menyimpan dedikasi yang luar biasa dari sang pemilik |
Berjudul panjang dalam postingan kali
ini memang saya sengaja. Ya, saya juga sengaja menulisnya dengan cepat sebagai
rasa kekaguman yang luar biasa akan dedikasi manusia di balik sebuah museum
sederhana yang terletak di sisi selatan Stasiun Lempuyangan ini. Pada awalnya,
kunjungan saya kali ini adalah untuk membayar rasa penasaran saya akan museum
ini yang batal saya kunjungi di tahun lalu karena tutup. Sekaligus ingin
memasukkannya dalam postingan yang sedang saya garap yaitu Jogja
Museums : Review Part 2. Tapi yang saya dapatkan ternyata jauh lebih besar
daripada yang saya ekspektasikan sebelumnya. Ya, berjudul “Untukmu Museum Batik Yogyakarta”, saya dedikasikan ini secara
terpisah dari review edisi kedua
saya, sebagai rasa salut dan kagum saya akan ketekunan, kecintaan, dan
pengabdian seorang wanita dalam menjaga dan menghargai Batik, sebagai warisan
budaya bangsa.
Senin, 27 Februari 2012
Hectic Trip : Soerabaja!
![]() |
Berjudul
hetic trip memang sangat tepat dalam
menggambarkkan jalan-jalan singkat saya di Surabaya (hanya 2 hari) yang bisa
dibilang grusa-grusu. Ya, begitu
orang Jawa menyebutnya, jalan-jalan kali ini jauh dari kata nikmat dan santai.
Sebenarnya, tujuan utama saya mengunjungi Surabaya adalah memenuhi panggilan
wawancara kerja dari salah satu perusahaan perunggasan di sana. Tapi, alangkah
sayangnya jika tidak sekaligus memanfaatkan moment
ini dengan menjelajahi sudut-sudut pariwisata Surabaya. Apalagi saya adalah
tipe orang yang selalu penasaran dengan pariwisata dan kebudayaan yang
ditawarkan oleh suatu wilayah. Terlebih lagi ini adalah Surabaya, sebuah kota
metropolis yang sarat akan suasana super
sibuk, lalu lintas padat dan hiruk-pikuk perkotaan dengan sinar matahari yang
selalu terik. Akhirnya rasa Ingin tahu saya semakin besar dan mendorong saya
dan Sidik (seorang kolega dokter hewan) untuk stay satu hari lebih lama di Surabaya.
Sabtu, 18 Februari 2012
Candi Sukuh dan Cetho: Eksotisme nan Erotis!
![]() |
| Cuma satu kata..Unik! |
Setelah hampir
sebulan berlalu, saya baru sempat memposting cerita jalan-jalan saya kali ini
dalam menyusuri sisi historis Karanganyar
yang bagi saya sangat menarik. Ya, selain memiliki panorama alam yang luar
biasa cantik dengan perkebunan tehnya yang terhampar luas bak karpet hijau,
ternyata kabupaten yang merupakan eks karesidenan Surakarta ini juga menyimpan
jejak historis yang mengagumkan. Berada di kaki Gunung Lawu, tersisa hasil
karya peradaban yang unik dan megah, yaitu Candi Sukuh dan Cetho. Dua nama
candi yang terkenal akan keunikan arsitekturnya yang lain daripada yang lain. Alasan
itulah yang melatar belakangi acara jalan-jalan saya kali ini bersama tim
dokter hewan bahagia yang terdiri dari Desem, Didim, Rian dan Satria. Ya, kami
berlima memang berniat untuk menikmati masa peralihan ini setelah dilantik
sebagai dokter hewan baru pada Desember lalu. Sebagian besar dari kami memang
ingin melanjutkan S2 (termasuk saya akhirnya) yang baru dimulai pada bulan Juli
mendatang, dan sebagian lagi karena sedang menanti masa kerja yang dengan bebas
mereka atur sendiri. Jadi layak kan kalau saya menyebutnya tim dokter hewan
bahagia? karena kami bukan pengangguran tanpa tujuan. Hehe..
Rabu, 08 Februari 2012
Antara Ngarsopuro dan Triwindu
| Saya bersama koleksi topeng di Triwindu |
Solo memang ngga
ada matinya kalau urusan belanja. Ya, sedari awal saya menyadari bahwa
salah satu jenis wisata yang sangat diandalkan oleh Kota Solo adalah wisata
belanja. Kota yang sarat akan budaya Jawa ini memang asyik untuk ditelusuri,
terutama setiap sudut wisata belanjanya. Pada postingan sebelumnya (2 Hari
Menantang Matahari-red) saya
membawakan tema wisata batik di Solo, ya, mulai dari Kampung Batik sampai Pasar
Batik yang ada di sana dengan beragam motif batik yang cukup murah tentunya.
Hmm..suatu keisengan akhirnya membawa saya menelusuri sudut wisata belanja yang
lain. Ya, di suatu weekend dimana posisi saya masih sangat santai (baca:
karena masih sebagai jobseeker)
akhirnya membuat saya lebih sering menyambangi kota budaya di Jawa Tengah ini
ketika weekend tiba. Cukup dengan
menggunakan kereta api ekonomi Prameks (Prambanan Ekspress) dengan rute
Jogja-Solo PP maka saya pun sudah bisa berpergian dengan cukup nyaman (walaupun
akhir-akhir ini saya lebih sering tidak kebagian tempat duduk di Prameks) hanya
dengan membayar Rp. 10.000,-. Hehehe..apalagi di Solo ada Mas Billy (calon
kakak ipar nih!) yang kamarnya selalu open
untuk saya tiduri ketika saya mengunjungi Solo. Jadi saya tidak perlu berpikir
panjang lagi jika ingin menghabiskan weekend
di Kota Solo yang bagi saya memiliki suasana unik tersediri, yang berbeda
dengan Jogja, meskipun saya sangat cinta Jogja.
Jumat, 03 Februari 2012
Mengintip Torehan Alam di Goa Pindul
Mungkin
akhir-akhir ini nama Goa Pindul sering kita dengar baik dari media informasi
maupun dari mulut ke mulut, ya, dari mereka yang sudah merasakan serunya ber-cave tubbing ria di sana. Goa Pindul
yang terletak di Dusun Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul
ini memang sedang naik daun rupanya. Keseruan yang ditawarkan olehnya membuat
saya sendiri sudah merencanakan perjalanan menuju ke sana sejak jaman KKN
sekitar dua bulan yang lalu. Suatu kegembiraan yang tidak direncanakan,
memang, ketika seorang teman saya,
Desem, tiba-tiba menawari saya untuk ikutan ber-cave tubbing ria di Goa Pindul pada pertengahan Januari yang lalu.
Seketika saya mengiyakan ajakan tersebut. Apalagi jalan-jalan kali ini
beranggotakan Satria, Ardhy, Desem dan juga Thira (pacar Ardhy). Rombongan
inilah yang dulu juga mengajak saya menikmati indahnya beberapa pantai selatan
di Kabupaten Gunungkidul ketika jaman kami masih kuliah.
Minggu, 29 Januari 2012
Menengok Alam dan Sang Bapak Pembangunan di Bumi Karanganyar
![]() |
| Saya di depan pintu masuk Grojogan Sewu =) |
Sebenarnya
ini merupakan cerita jalan-jalan saya yang sudah cukup lama, dan baru sempat
saya membahasnya dalam postingan kali ini. Lebih tepatnya ini merupakan cerita
jalan-jalan bersama keluarga besar saya. Ya, jujur saja, saya akhir-akhir ini
lebih menikmati untuk ngebolang
sendirian atau bersama kawan-kawan seumuran saya, daripada bersama keluarga.
Mengapa? Bukan karena saya tidak cinta keluarga. Bagi saya keluarga adalah
segala-galanya. Tapi ketika berwisata bersama keluarga itu artinya harus
mengharmonisasikan berbagai hal yang bagi saya, justru mengakibatkan wisata itu
menjadi seadanya. Pertama, ketika
kita berwisata bersama keluarga itu artinya kita harus menurut pada kemampuan
dan keinginan dari sebagian besar anggota keluarga. Jangan harap kita dapat
mengeksplorasi wisata-wisata terpencil yang medannya cenderung repot dan jelas
dihindari oleh sebagian besar anggota keluarga. Kedua, berbagai pertimbangan
terutama keamanan ketika berwisata akan membuat kita tidak mendapatkan sensasi
adrenalin yang sebenarnya ditawarkan dari beberapa tempat wisata. Iya kan? Ini
terlihat dari saya yang mencoba membandingkan ber-flying fox ketika bersama anggota keluarga dan sendirian. Ketika
sendirian, saya dengan cepatnya memutuskan, membayar tiket dan seketika
meluncur. Nah, ketika bersama keluarga, berbagai pertimbangan dan kekhawatiran
muncul dari pihak keluarga sehingga harus berlama-lama untuk meyakinkan bahwa
saya akan baik-baik saja. Percaya atau tidak, feel-nya pun berkurang lho..
Langganan:
Postingan (Atom)





