Minggu, 17 Maret 2013

3 teman, 2 hari, 3 pantai


Saya dan sahabat saya, Rani :)

Yiaa! Sudah pertengahan Maret rupanya ketika saya menengok tanggal yang tertera di nota medis klinik ketika saya merincikan biaya pasien sore kemarin. Lalu, apakabar dengan blog saya? Sedikit tidak terurus tentunya. Ya, akhir-akhir ini saya merasa tidak memiliki waktu untuk kesenangan saya pribadi. Entah kapan terakhir saya traveling tanpa tergesa-gesa atau dikejar-kejar jadwal praktek. Kepentingan pasien adalah kepentingan tertinggi yang harus saya junjung, tapi rasa jenuh tentu sangatlah manusiawi. Bermodal mood yang bagus setelah berkumpul bersama kawan-kawan di hari libur praktek, ternyata mampu menggugah semangat saya untuk mengisi blog kembali. Destinasi kali ini tetap tidak jauh-jauh dari eksplorasi pesisir selatan Jogja, ya, tetap mengunjungi pantai-pantai indah di kabupaten Gunungkidul. Bagi saya pantai-pantai ini merupakan destinasi terdekat yang dapat digunakan untuk menghilangkan penat, juga karena jadwal yang memang sangat terbatas untuk traveling. Suatu perjalanan pun tercetus oleh saya dan seorang sahabat saya, dokter Rani untuk menghabiskan long weekend di pantai Gunungkidul. Ya, kami sama-sama bosan. Rani sudah menghabiskan satu hari berdiam diri di kamar dengan menonton DVD secara maraton, sementara saya dengan jadwal praktek yang tetap ada meskipun hari libur tiba. Kesempatan untuk mengambil libur selama 2 hari pun tidak akan saya sia-siakan hanya dengan berdiam diri di kamar.

Saya, Jesot dan Fandhi di Sadranan

Menikmati Sadranan *sayang nge-blur*

Candid!


Walking in the beach :)

Saya dan Rani pun langsung berangkat. Tanpa planing, tanpa banyak berpikir. Kami memang sejalan untuk urusan yang satu ini. Traveling dengan terlalu banyak planing akan memakan waktu yang ujung-ujungnya sering berakhir sebagai wacana saja. Kami tidak berdua, kami akhirnya pergi berempat karena ditemani oleh Fandhi (ex-boyfriend Rani) dan Jessot alias Jesi (adek angkatan saya dan Rani di kampus). Bermodal sewa mobil, kami pun segera berangkat menuju Gunungkidul karena ingin menghabiskan sunset di sana. Ya, layaknya perjalanan menuju Gunungkidul sebelumnya, kami menghabiskan waktu 1,5 jam perjalanan hingga akhirnya sampai di destinasi pertama. Pilihan pertama kami jatuh pada pantai Sadranan. Ini merupakan pertama kalinya saya mengunjungi Sadranan setelah berulang kali mengeksplorasi keindahan pantai-pantai lainnya di kabupaten Gunungkidul. Bagi saya Sadranan adalah pantai yang unik, tidak terlalu besar namun cantik. Sadranan mampu menghadirkan privasi tersendiri meskipun situasinya sedang ramai oleh para wisatawan. Sejenak kebersamaan di Sadranan terasa sejuk di hati. Suasana sore yang teduh dengan cakrawala yang mulai meredup sukses menghibur penat saya. Fandhi memilih berenang karena baginya tidaklah afdol ketika ke pantai tanpa berenang, sementara saya, Rani dan Jesot asik berfoto-foto. Dokter cantik satu ini memang penggila foto dengan pose-pose yang sedikit menantang. Hehehe..

Bersama Rani :)

Pose andalan si Jesot :p
Sadranan tampak teduh ketika senja datang. Sebuah bukit karang di tengah laut, ditambah pasir putih dan air laut yang memantulkan cahaya langit tampak perfect!. Saya hanya duduk-duduk ketika langit sudah mulai memejamkan sinarnya. Tuhan punya kuasa. Itulah yang saya rasakan ketika menikmati suasana senja di Sadranan. Ya, kuasa yang sungguh besar untuk menghibur umatNya melalui karya alam yang luar biasa. Akhirnya cahaya di langit Sadranan pun meredup dengan sempurna. Saya dan teman-teman pun memutuskan untuk sejenak menikmati mie instan di salah satu warung pinggir pantai sebelum mencari penginapan. Malam itu angin Sadranan terasa begitu dingin, ya, tidak lagi sejuk yang akhirnya mendorong kami untuk segera beranjak dari Sadranan. Kami pun akhirnya menemukan penginapan yang “ideal” di kawasan wisata pantai Baron. Ah, saya lupa namanya, yang saya ingat hanya cat temboknya yang serba ungu. Penginapan ini menyediakan 2 macam tipe kamar, ber-AC dan tidak ber-AC. Kamar ber-AC dibandrol harga Rp. 200.000,-/malam sementara yang tidak ber-AC hanya Rp. 100.000,-/malam. Malam itu kami memutuskan untuk menginap di kamar ber-AC. Ya, dengan ukuran bed yang besar sehingga muat digunakan oleh kami berempat. Hmmm..tapi agak salah untuk pemilihan kriteria ber-AC nya, karena semakin malam justru semakin dingin yang mengharuskan Rani mematikan AC di tengah tidur kami yang mulai gelisah karena kedinginan. Thats what friends are for right? Always knowing each other anytime! :)
Saya dan Sadranan :)


Sang dokter cantik! :*
Rani, saya dan Jesot di Pok Tunggal :)


Best friend :) *i will miss you mate! (Saya dan Rani di bawah pohon Pok Tunggal)
sedikit bermain rumput laut :)
Pagi pun tiba, selesai sholat Subuh kami pun segera bergerak menuju pantai kedua. Keinginan untuk mengejar sunrise pun sirna. Ada 2 faktor penyebab sebenarnya, yang pertama karena kami masih enjoy untuk bersinggungan dengan kasur, dan yang kedua adalah adanya kabar dari seorang kawan bahwa sunrise di pesisir selatan ini tidaklah terlihat maksimal. Lengkaplah sudah, akhirnya baru pada pukul 06.30 WIB kami beranjak dari penginapan. Tujuan kedua jatuh pada pantai Pok Tunggal. Ya, pantai yang satu ini bisa dibilang sebagai pantai yang baru saja dieksplorasi sebagai tujuan wisata. Tekstur pesisir pantai yang berkarang menjadikan kami tidak dapat bermain air secara bebas. Cukup dengan menikmati pasir putih dan suasananya yang sepi, kami pun berfoto-foto. Oh ya, kami pun tidak lupa untuk berfoto di bawah pohon duras atau yang dikenal sebagai pohon Pok Tunggal. Jauh dari ekspektasi memang. Ya, karena ketika saya browsing di internet, pohon ini tampak cantik dan megah karena didukung oleh tehnik fotografi yang memadai tentunya. Ketika saya sampai di sana, ternyata pohon ini tampak biasa saja. Hehe..saatnya beranjak kawan! Destinasi tujuan ketiga kami adalah pantai Indrayanti, ya, pantai yang sudah berulang kali saya kunjungi. Pemilihan tujuan ketiga ini lebih karena kami yang lapar dan ingin makan siang di pantai yang terkenal dengan menu seafood dan gazebo-gazebonya yang menarik ini. Namun kami pun menyempatkan untuk berenang, benar-benar berenang tanpa peduli lagi terhadap kulit yang akan terbakar mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Rani pun sudah siap dengan bikininya namun batal diekspos karena canggung. Haha.. Diapa-apakan ini di Jogja, di tanah berbudaya yang senantiasa membuat orang-orangnya bersikap santun secara alamiah. Time to have lunch! Kami pun menikmati hidangan seafood dan es kelapa muda sebelum akhirnya kembali ke losmen dan bersiap pulang ke Jogja. Kuliner seafood disini terasa sangat nikmat, entah karena kami yang lapar atau karena hidangannya yang terasa komplit dengan sajian sambal pedasnya. Oh ya, mengenai indahnya pantai-pantai di postingan kali ini, biarkan foto-foto saja yang berbicara ya! Pantai selalu menghadirkan hiburan tersendiri bagi saya, tidak tergantikan! :) Kenali Negerimu, Cintai Negerimu!

Friendship :) at Pok Tunggal





Saya dan Rani di Gazebo, Indrayanti

Ready to swim right?

Swimming time :)


Full colour of friendship :)

Dokter yang satu ini tidak lagi di Jogja, take care mate! :)

Bestfriend :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar